welcome

Senin, 18 Oktober 2010

Luka Bakar Pada Anak


BAB I
PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang 1,2,3
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau hilangnya jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik, dan radiasi. Luka bakar merupakan salah satu jenis trauma yang mempunyai angka morbiditas dan mortalitas tinggi yang memerlukan penatalaksanaan khusus sejak awal (fase syok ) sampai fase lanjut.
Pada kasus luka bakar ini harus diperhatikan berbagai aspek, karena pada kasus luka bakar memerlukan biaya yang sangat besar, perlu perawatan yang lama, perlu operasi berulang kali, bahkan meskipun sembuh bisa menimbulkan kecacatan yang menetap, sehingga penanganan luka bakar sebaiknya dikelola oleh tim trauma yang terdiri dari tim spesialis bedah ( bedah plastik, bedah toraks, bedah anak ), intensitas, spesialis penyakit dalam (khususnya hematologi, gastroenterologi, ginjal dan hipertensi), ahli gizi, rehabilitasi medik, psikiatri, dan psikolog, namun celakanya seringkali menimpa orang-orang yang tidak mampu.
Luka bakar pada penatalaksanaan antara anak dan dewasa pada prinsipnya sama namun pada anak akibat luka bakar dapat menjadi lebih serius. Hal ini disebabkan anak memiliki lapisan kulit yang lebih tipis, lebih mudah untuk kehilangan cairan, lebih rentan untuk mengalami hipotermia (penurunan suhu tubuh akibat pendinginan).
Luka bakar pada anak 65,7% disebabkan oleh air panas atau uap panas (scald). Mayoritas dari luka bakar pada anak-anak terjadi di rumah dan  sebagian besar dapat dicegah. Dapur dan ruang makan merupakan daerah yang seringkali menjadi lokasi terjadinya luka bakar. Anak yang memegang oven, menarik taplak dimana di atasnya terdapat air panas, minuman panas atau makanan panas.
Prognosis dan penangangan luka bakar terutama tergantung pada dalam dan luasnya permukaan luka bakar; dan penanganan sejak fase awal sampai penyembuhan. Selain itu faktor letak daerah yang terbakar, usia, dan keadaan kesehatan penderita juga turut menentukan kecepatan penyembuhan.
Oleh karena itu, semua orang khususnya orangtua, harus meningkatkan pengetahuan mengenai luka bakar dan penanganannya, terutama pada anak-anak.
2.        Epidemiologi 4,5
Di rumah sakit anak di Inggris, selama satu tahun, terdapat sekitar 50.000 pasien luka bakar dimana 6400 diantaranya masuk ke perawatan khusus luka bakar. Antara 1997-2002 terdapat 17.237 anak di bawah 5 tahun mendapat perawatan di gawat darurat di 100 rumah sakit di Amerika. Jumlah kasus pada anak sering berhubungan dengan kekerasan pada anak terutama anak laki-laki dan sangat muda. Ini sering terjadi pada orang tua tunggal dan tinggal di rumah yang sangat sederhana. Insidens beragam antara 1,7 – 8 % dari kejadian  luka bakar di Amerika Serikat. Pada pemeriksaan biasanya akan ditemukan tanda-tanda kekerasan atau jejas trauma terutama pada ekstremitas bawah. Adapula tanda luka bakar atau scar akibat sundutan api rokok.
Sedangkan di Indonesia sejak digulirkan program pemerintah tentang konversi minyak  tanah ke tabung gas elpiji 3 kg, kasus luka bakar terus meningkat, Data MKI (Masyarakat Konsumen Indonesia) ledakan tabung gas 3 kg selama Januari 2008 sampai Mei 2010 sebanyak 10.000 kasus kebakaran terjadi di Jakarta Utara. 156 kebakaran terjadi di Jakarta Timur. 1738 kebakaran di Jakarta Pusat. 2.789 kasus kebakaran di Jakarta Barat. 2.654 kebakaran di Jakata Selatan. 29.110 kebakaran di Bekasi. 22.189 kebakaran di Depok. 11.712 kebakaran di Bogor dan Bandung. 44.405 kebakaran di Jawa Tengah, 14.950 kebakaran di Jawa Timur. 18.500 kebakaran di Bali. 18.990 kebakaran di Sulawesi Selatan. 30.000 kebakaran di Selawesi Utara. dan 130.650 kebakaran di Sumatera. Dari jumlah kasus kebakaran tersebut pastinya akan banyak lagi korban luka bakar dengan mencakup dari berbagai jenis usia dan tingkat keparahan luka bakar.
Data angka kematian kasus luka bakar dari RSPAD Gatot Soebroto Jakarta mulai Januari 1998 sampai dengan Desember 2003 berdasarkan distribusi usia mengambarkan bahwa kasus anak dengan usia < 5 tahun menempati tempat pertama dalam jumlah  kasus luka bakar yang terjadi dengan angka 24 kasus dan diikuti kasus pada usia produktif yaitu usia 21-50 tahun dengan angka 14 kasus.

Tabel. 1 Angka kematian kasus luka bakar yang dirawat di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta mulai Januari 1998 sampai dengan Desember 2003 berdasarkan distribusi usia.
Kelompok Usia
(tahun)
Jumlah kasus yang dirawat(kumulatif)
Presentasi luas luka bakar
Angka Kematian
   √•        %
< 40%
³ 40%
< 5
24
23
1
0    0
5-14
9
7
2
0   0
14-21
1
1
0
0    0
21-50
19
14
4
1   0
> 50
6
6
0
0    0



BAB II
ISI

1. DEFINISI 1
            Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik, dan radiasi.

2. ETIOLOGI 3
            Luka bakar berdasarkan penyebab dibedakan atas:
§  Luka bakar karena api
§  Luka bakar karena air panas                             
§  Luka bakar karena listrik dan petir
§  Luka bakar karena bahan kimia ( yang bersifat asam atau basa kuat )
§  Luka bakar karena radiasi
§  Cedera akibat suhu sangat rendah ( frost bite )
Kerusakan jaringan disebabkan oleh api lebih berat dibandingkan dengan air panas; kerusakan jaringan akibat bahan yang bersifat koloid (misalnya bubur panas) lebih berat dibandingkan air panas. Luka bakar akibat ledakan juga menyebabkan kerusakan organ dalam akibat daya ledak (eksplosif). Pada luka bakar yang disebabkan oleh bahan kimia terutama asam menyebabkan kerusakan yang hebat akibat reaksi jaringan sehingga terjadi diskonfigurasi jaringan yang menyebabkan gangguan proses penyembuhan.
Luka bakar pada anak 65,7% disebabkan oleh air panas atau uap panas (scald). Mayoritas dari luka bakar pada anak-anak terjadi di rumah dan sebagian besar dapat dicegah. Dapur dan ruang makan merupakan daerah yang seringkali menjadi lokasi terjadinya luka bakar. Anak yang memegang oven, menarik taplak dimana di atasnya terdapat air panas, minuman panas atau makanan panas.


3.      PATOFISIOLOGI 6
A.    ZONA KERUSAKAN JARINGAN
1.      Zona Koagulasi
Daerah yang langsung mengalami kerusakan (koagulasi protein) akibat pengaruh   panas.
2.      Zona Statis
Daerah yang berada langsung di luar zona koagulasi, terjadi kerusakan endotel pembuluh darah disertai kerusakan trombosit dan leukosit, sehingga terjadi gangguan perfusi (no flow phenomena), diikuti perubahan permeabilitas kapiler dan respons inflamasi lokal. Proses ini berlangsung selama 12-24 jam pasca cedera dan mungkin berakhir dengan nekrosis jaringan.
3.      Zona Hiperemi
Daerah di luar zona statis, ikut mengalami reaksi berupa vasodilatasi tanpa banyak melibatkan reaksi seluler.

B.     FASE LUKA BAKAR6
Dalam perjalanan penyakit dibedakan 3 fase pada luka bakar, yaitu :
1.      Fase awal, fase akut, fase syok
Pada fase ini problem yang berkisar pada gangguan saluran nafas karena adanya cedera inhalasi dan gangguan sirkulasi. Pada fase ini juga terjadi gangguan keseimbangan sirkulasi cairan dan elektrolit, akibat cedera termis yang bersifat sistemik.
2.      Fase setelah syok berakhir / diatasi / fase subakut
Fase ini berlangsung setelah syok berakhir / dapat di atasi. Luka terbuka akibat kerusakan jaringan (kulit dan jaringan dibawahnya) dapat menimbulkan masalah, yaitu :
a.       Proses inflamasi
Proses inflamasi yang terjadi pada luka bakar berbeda dengan luka sayat elektif; proses inflamasi di sini terjadi lebih hebat disertai eksudasi dan kebocoran protein.
Pada saat ini terjadi reaksi inflamasi lokal yang kemudian berkembang menjadi reaksi sistemik dengan dilepaskannya zat-zat yang berhubungan dengan proses immunologik, yaitu kompleks lipoprotein (lipid protein complex, burn-toxin) yang menginduksi respon inflamasi sistemik (SIRS = Systemic Inflammation Response syndrome).
b.      Infeksi yang dapat menimbulkan sepsis
c.       Proses penguapan cairan tubuh disertai panas / energi (evaporative heat loss) yang menyebabkan  perubahan dan gangguan proses metabolisme.
3.      Fase lanjut
 Fase ini berlangsung setelah terjadi penutupan luka sampai terjadi maturasi. Masalah  pada fase ini adalah timbul penyulit dari luka bakar berupa parut hipertrofik, kontraktur dan deformitas lain yang terjadi karena kerapuhan jaringan atau organ-organ stuktural, misalnya bouttoni√©rre deformity.

C.     PATOFISIOLOGI 1,6
1.      Akibat pertama luka bakar adalah syok karena kaget dan kesakitan. Pembuluh kapiler yang terkena suhu tinggi rusak sel darah yang di dalamnya ikut rusak sehingga dapat terjadi anemia.
2.      Meningkatnya permeabilitas menyebabkan udem dan menimbulkan bula dengan membawa serta elektrolit. Hal ini menyebabkan berkurangnya volume cairan intravaskuler. Tubuh kehilangan cairan antara ½ % - 1 %, “Blood Volume setiap 1 % luka bakar. Kerusakan kulit akibat luka bakar menyebabkan kehilangan cairan tambahan karena penguapan yang berlebih (insensible water loss meningkat).
3.      Bila luka bakar lebih dari 20 % akan terjadi syok hipovolemik dengan gejala yang khas yaitu : gelisah, pucat dingin berkeringat, nadi kecil, dan cepat, tekanan darah menurun dan produksi urine menurun (kegagalan fungsi ginjal).
4.      Pada luka bakar daerah wajah dapat terjadi kerusakan mukosa jalan nafas karena gas, asap atau uap panas yang terhisap. Gejala yang timbul adalah sesak nafas, takipneu, stridor, suara serak dan berdahak berwarna gelap karena jelaga. Dapat juga terjadi keracunan gas CO atau gas beracun lain. CO akan mengikat hemoglobin dengan kuat sehingga tak mampu mengikat oksigen lagi. Tanda keracunan yang ringan adalah lemas, bingung, pusing, mual dan muntah. Pada keracunan berat terjadi koma. Bila lebih 60 % hemoglobin terikat CO, penderita akan meninggal.

4.      KLASIFIKASI LUKA BAKAR 2,3
            Klasifikasi luka bakar dibagi atas berdasarkan penyebab/ etiologi (seperti dijelaskan diatas) dan kedalaman luka bakar.
A.    Klasifikasi berdasarkan penyebab
Luka bakar dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain:
·      Luka bakar karena api
·      Luka bakar karena air panas
·      Luka bakar karena bahan kimia (yang bersifat asam atau basa kuat)
·      Luka bakar karena listrik dan petir
·      Luka bakar karena radiasi
·      Cedera akibat suhu sangat rendah (frost bite)
B.     Klasifikasi berdasarkan kedalaman luka
Lama kontak jaringan dengan sumber panas menentukan luas dan kedalaman kerusakan jaringan. Semakin lama waktu kontak, maka semakin luas dan dalam kerusakan jaringan yang terjadi.
1. Luka bakar derajat satu      
Ditandai dengan luka bakar superfisial dengan kerusakan pada lapisan epidermis.  Tampak eritema.  Penyebab tersering adalah sengatan sinar matahari.  Pada proses penyembuhan terjadi lapisan luar epidermis yang mati akan terkelupas dan terjadi regenerasi lapisan epitel yang sempurna dari epidermis yang utuh dibawahnya. Tidak terdapat bula, nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi. Dapat sembuh spontan selama 5-10 hari.
2.  Luka bakar derajat dua
Kerusakan terjadi pada lapisan epidermis dan sebagian dermis dibawahnya, berupa reaksi inflamasi akut disertai proses eksudasi.  Pada luka bakar derajat dua ini ditandai dengan nyeri, bercak-bercak berwarna merah muda dan basah serta pembentukan blister atau lepuh.biasanya disebabkan oleh tersambar petir, tersiram air panas.  Dalam waktu 3-4 hari, permukaan luka bakar mengering sehingga terbentuklah krusta tipis berwarna kuning kecoklatan seperti kertas perkamen.  Beberapa minggu kemudian, krusta itu akan mengelupas karena timbul regenerasi epitel yang baru tetapi lebih tipis dari organ epitel kulit yang tidak terbakar didalamnya.  Oleh karena itu biasanya dapat terdapat penyembuhan spontan pada luka bakar superfisial atau partial thickness burn

Gambar. 1 bula pada telapak tangan karena memegang dandang panas, luka in i digolongkan ke dalam luka bakar derajat dua, karena epidermis berada diatas luka

Dibedakan menjadi 2 (dua):
a. Derajat II dangkal (superfisial)
·         kerusakan mengenai sebagian superfisial dari dermis
·         apendises kulit seperti folikel rambut, kelenjer keringat, kelenjer sebasea masih utuh
·         penyembuhan terjasi spontan dalam waktu 10-14 hari.
b. Derajat II dalam (deep)
·         kerusakan mengenai hampir saluruh bagian dermis
·         apendises kulit sperti folikel rambut, kelenjer keringat, kelenjer sebasea sebagian masih utuh.
·         Penyembuhan terjadi lebih lama, tergantung apendises kulit yang tersisa. Biasanya terjadi dalam waktu lebih dari satu bulan.

Gambar.2 ;luka bakar derajat dua dalam, pada anak yang tersiram kopi panas, luka berwarna merah muda, lunak pada penekanan, dan tampak basah, sensasi nyeri sulit ditentukan pada anak.

3. Luka bakar derajat tiga
Terjadi kerusakan pada seluruh ketebalan kulit.  Meskipun tidak seluruh tebal kulit rusak, tetapi bila semua organ kulit sekunder rusak dan tidak ada kemampuan lagi untuk melakukan regenerasi kulit secara spontan/ reepitelisasi, maka luka bakar itu juga termasuk derajat tiga.  Penyebabnya adalah api, listrik,atau zat kimia.  Mungkin akan tampak berwarna putih seperti mutiara dan biasnya tidak melepuh, tampak kering dan biasanya relatif anestetik.  Dalam beberapa hari, luka bakar semacam itu akan membentuk eschar berwarna hitam, keras, tegang  dan tebal.

Gambar.3 ;lula bakar derajat tiga, pada anak  yang memegang pengeriting rambut luka kering tidak kemerahan dan berwarna putih

Selama periode pasca luka bakar dini sampai 5 hari, akan sulit untuk membedakan luka bakar derajat dua atau tiga, tetapi pada minggu kedua sampai minggu ketiga pasca luka bakar di mana tampak drainase dan eschar yang terpisah dari luka bakar derajat tiga.   Setelah eschar diangkat, sisa jaringan dibawahnya (biasanya lapisan subkutan) akan membentuk jaringan granulasi, suatu massa yang terdiri dari sel-sel fibroblas dan jaringan penyambung yang kaya pembuluh darah kapiler.  Permukaan jaringan granulasi yang berwarna merah tua itu terbentuk setelah 21 hari, dan dalam waktu 1 sampai 2 minggu kemudian sebaiknya dilakukan skin graft.

Gambar 4 Klasifikasi luka bakar berdasarkan kedalaman luka




Klasifikasi
Penyebab
Penampakan luar
Sensasi
Waktu penyembuhan
Jaringan parut
Luka bakar dangkal (superficial burn)     
Sinar UV, paparan nyala api
Kering dan merah; memucat dengan penekanan
Nyeri
3 – 6 hari               
Tidak terjadi jaringan parut
Luka bakar sebagian dangkal (superficial partial-thickness burn)     
Cairan atau uap panas (tumpahan atau percikan), paparan nyala api
Gelembung berisi cairan, berkeringat, merah; memucat dengan penekanan
Nyeri bila
 terpapar udara dan panas
7-20 hari
Umumnya tidak terjadi jaringan parut; potensial untuk perubahan pigmen
Luka bakar sebagian dalam (deep partial-thickness burn)                                     
Cairan atau uap panas (tumpahan), api, minyak panas
Gelemb-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1ptung berisi cairan (rapuh); basah atau kering berminyak, berwarna dari putih sampai merah; tidak memucat dengan penekanan
Terasa dengan penekanan saja
>21 hari
Hipertrofi, berisiko untuk kontraktur (kekakuan akibat jaringan parut yang berlebih)
Luka bakar seluruh lapisan (full thickness burn)                                                     
Cairan atau uap panas, api, minyak, bahan kimia, listrik tegangan tinggi
Putih berminyak sampai abu-abu dan kehitaman; kering dan tidak elastis; tidak memucat dengan penekanan
Terasa hanya dengan penekanan yang kuat
Tidak dapat sembuh (jika luka bakar mengenai >2% dari TBSA)
Risiko sangat tinggi untuk terjadi kontraktur

Tabel 2 Klasifikasi kedalaman luka bakar6

5.       PERHITUNGAN LUAS LUKA BAKAR 1,2,3
Walaupun hanya perkiraan saja , the rule of nine, tetap merupakan petunjuk yang baik dalam menilai luasnya luka bakar: kepala, 7 persen, dan leher, 2 persen sehingga totalnya 9 persen.  Setiap ekstrimitas atas, 9 persen : dan bagian anterior,2 x 9 persen.  Badan bagian posterior, 13 persen, dan bokong 5 persen, sehingga total 18 persen: dan setiap ekstrimitas bawah, 2 x 9 : dan genitalia , 1 persen.

Gambar 5. Perhitungan luas luka bakar berdasarkan Rule of Nine oleh Wallace

Untuk area luka bakar yang tersebar kita dapat memperkirakan persentasenya dengan menggunakan tangan dengan jari-jari pasien, dimana jari-jari dalam keadaan abduksi, dimana sama dengan kurang lebih 1 persen dari total luas permukaan tubuh pasien.
Pada anak-anak terdapat perbedaan dalam luas permukaaan tubuh, yang umumnya mempunyai pertimbangan lebih besar antara luas permukaan kepala dengan luas ekstrimitas bawah dibandingkan pada orang dewasa.  Area kepala luasnya adalah 19 persen pada waktu lahir (10 persen lebih besar daripada orang dewasa).  Hal ini terjadi akibat pengurangan pada luas ekstrimitas bawah, yang masing-masing sebesar 13 persen.  Dengan bertambahnya umur setiap tahun, sampai usia 10 tahun, area kepala dikurangi 1 persen dan jumlah yang sama ditambah pada setiap ekstrimitas bawah.  Setelah usia 10 tahun, digunakan persentase orang dewasa. 
            Rumus rule of nine dari Wallace tidak digunakan pada anak dan bayi karena luas relatif permukaan kepala anak jauh lebih besar dan luas relatif permukaan kaki lebih kecil. Oleh karena itu, digunakan rumus 10 untuk bayi, dan rumus 10-15-20 dari Lund dan Browder untuk anak.

Gambar 6. Perhitungan luas luka bakar menurut Lund and Browder

Area
Lahir-1 tahun
1 – 4 tahun
5 – 9 tahun
10 – 14 tahun
15 tahun
dewasa
2nd*
3rd*
TBSA

Kepala
19
17
13
11
9
7



Leher
2
2
2
2
2
2



Badan bagian depan
13
13
13
13
13
13



Badan bagian belakang
13
13
13
13
13
13



Pantat kanan
2.5
2.5
2.5
2.5
2.5
2.5



Pantat kiri
2.5
2.5
2.5
2.5
2.5
2.5



Genitalia (kemaluan)
1
1
1
1
1
1



Lengan kanan atas
4
4
4
4
4
4



lengan kiri atas
4
4
4
4
4
4



Lengan bawah kanan
3
3
3
3
3
3



Lengan bawah kiri
3
3
3
3
3
3



Tangan kanan (telapak tangan depan dan punggung tangan)
2.5
2.5
2.5
2.5
2.5
2.5



Tangan kiri (telapak tangan dan punggung tangan)
2.5
2.5
2.5
2.5
2.5
2.5



Paha kanan
5.5
6.5
8
8.5
9
9.5



Paha kiri
5.5
6.5
8
8.5
9
9.5



Betis kanan
5
5
5.5
6
6.5
7



Betis kiri
5
5
5.5
6
6.5
7



Kaki kanan (bagian tumit sampai telapak kaki)
3.5
3.5
3.5
3.5
3.5
3.5



Kaki kiri
3.5
3.5
3.5
3.5
3.5
3.5




Total:




*derajat dua saat ini merupakan luka bakar sebagian baik dangkal maupun dalam; derajat 3 sebagai luka bakar seluruh lapisan (full-thickness)
Tabel 3. Penilaian luas area tubuh menurut Lund and Browder

6.  DERAJAT  KEPARAHAN LUKA BAKAR 1
Berdasarkan berat-ringannya luka bakar (American Burn Association):
I.    Luka Bakar Berat ( Major Burn Injury )
·         Derajat II, terbakar >25% area permukaan tubuh pada dewasa
·         Derajat III, terbakar >25% area permukaan tubuh pada anak-anak
·         Derajat III, terbakar >10% area permukaan
·         Kebanyakan meliputi tangan, muka, mata, telinga, kaki atau perineum
      Kebanyakan pasien meliputi :
-          Luka inhalasi
-          Luka elektrikal
-          Luka bakar dengan komplikasi trauma

II.  Luka Bakar Sedang
·         Derajat II, terbakar 15-25% area permukaan tubuh pada dewasa
·         Derajat II, terbakar 10-20% are permukaan tubuh pada anak-anak
·         Derajat III, terbakar <10% area permukaan tubuh.

III. Luka Bakar Ringan
·         Derajat II, terbakar <15% area permukaan tubuh pada dewasa
·         Derajat II, terbakar <10% area permukaan tubuh pada anak-anak
·         Derajat III, terbakar <2% area permukaan tubuh.

Indikasi rawat inap :
1.      Derajat 2 lebih dari 15% pada dewasa, dan lebih dari 10% pada anak
2.      Derajat 2 pada muka, tangan, kaki, perineum
3.      Derajat 3 lebih dari 2% pada dewasa, dan setiap derajat 3 pada anak
4.      Luka bakar yang disertai trauma visera, tulang, dan jalan napas


7.       PENATALAKSANAAN 10

            Secara sistematik dapat dilakukan 6c : clothing, cooling, cleaning, chemoprophylaxis, covering and comforting (contoh pengurang nyeri). Untuk pertolongan pertama dapat dilakukan langkah clothing dan cooling, baru selanjutnya dilakukan pada fasilitas kesehatan. 7
§  Clothing : singkirkan semua pakaian yang panas atau terbakar. Bahan pakaian yang menempel dan tak dapat dilepaskan maka dibiarkan untuk sampai pada fase cleaning.
§  Cooling :
o   Dinginkan daerah yang terkena luka bakar dengan menggunakan air dingin yang mengalir selama 20 menit, hindari hipotermia (penurunan suhu di bawah normal, terutama pada anak dan orang tua). Cara ini efektif sampai dengan 3 jam setelah kejadian luka bakar
o   Kompres dengan air dingin (air sering diganti agar efektif tetap memberikan rasa dingin) sebagai analgesia (penghilang rasa nyeri) untuk luka yang terlokalisasi
o   Jangan pergunakan es karena es menyebabkan pembuluh darah mengkerut (vasokonstriksi) sehingga justru akan memperberat derajat luka dan risiko hipotermia
o   Untuk luka bakar karena zat kimia dan luka bakar di daerah mata, siram dengan air mengalir yang banyak selama 15 menit atau lebih. Bila penyebab luka bakar berupa bubuk, maka singkirkan terlebih dahulu dari kulit baru disiram air yang mengalir.
§  Cleaning : pembersihan luka tergantung dari derajat berat luka bakar, kriteria minor cukup dilakukan dengan zat anastesi lokal, sedangkan untuk kriteria moderate sampai major dilakukan dengan anastesi umum di ruang operasi untuk mengurangi rasa sakit. Dengan membuang jaringan yang sudah mati, proses penyembuhan akan lebih cepat dan risiko infeksi berkurang.
§  Chemoprophylaxis : pemberian anti tetanus, dapat diberikan pada luka yang lebih dalam dari superficial partial thickness (dapat dilihat pada tabel II.3 jadwal pemberian antitetanus). Pemberian krim silver sulvadiazin untuk penanganan infeksi, dapat diberikan kecuali pada luka bakar superfisial. Tidak boleh diberikan pada wajah, riwayat alergi sulfa, perempuan hamil, bayi baru lahir, ibu menyusui dengan bayi kurang dari 2 bulan.
§  Covering : penutupan luka bakar dengan kassa. Dilakukan sesuai dengan derajat luka bakar. Luka bakar superfisial tidak perlu ditutup dengan kasa atau bahan lainnya. Pembalutan luka (yang dilakukan setelah pendinginan) bertujuan untuk mengurangi pengeluaran panas yang terjadi akibat hilangnya lapisan kulit akibat luka bakar. Jangan berikan mentega, minyak, oli atau larutan lainnya, akan menghambat penyembuhan dan meningkatkan risiko infeksi.
§  Comforting : dapat dilakukan pemberian pengurang rasa nyeri.
Dapat diberikan penghilang nyeri berupa :
·         Paracetamol dan codein (PO-per oral)- 20-30mg/kg
·         Morphine (IV-intra vena) 0,1mg/kg diberikan dengan dosis titrasi bolus
·         Morphine (I.M-intramuskular) 0,2mg/kg
Selanjutnya pertolongan diarahkan untuk mengawasi tanda-tanda bahaya dari ABC (Airway, Breathing, Circulation).

Airway and Breathing
            Perhatikan adanya stridor (mengorok), suara serak, dahak berwana jelaga (black sputum), gagal napas, bulu hidung yang terbakar, bengkak pada wajah. Luka bakar pada daerah orofaring dan leher membutuhkan tatalaksana intubasi (pemasangan pipa saluran napas ke dalam trakea/batang tenggorok) untuk menjaga jalan napas yang adekuat/tetap terbuka. Intubasi dilakukan di fasilitas kesehatan yang lengkap.

Circulation
            Penilaian terhadap keadaan cairan harus dilakukan. Pastikan luas luka bakar untuk perhitungan pemberian cairan. Pemberian cairan intravena (melalui infus) diberikan bila luas luka bakar >10%. Bila kurang dari itu dapat diberikan cairan melalui mulut. Cairan merupakan komponen penting karena pada luka bakar terjadi kehilangan cairan baik melalui penguapan karena kulit yang berfungsi sebagai proteksi sudah rusak dan mekanisme dimana terjadi perembesan cairan dari pembuluh darah ke jaringan sekitar pembuluh darah yang mengakibatkan timbulnya pembengkakan (edema). Bila hal ini terjadi dalam jumlah yang banyak dan tidak tergantikan maka volume cairan dalam pembuluh darah dapat berkurang dan mengakibatkan kekurangan cairan yang berat dan mengganggu fungsi organ-organ tubuh.
            Cairan infus yang diberikan adalah cairan kristaloid (ringer laktat, NaCl 0,9%/normal Saline). Kristaloid dengan dekstrosa (gula) di dalamnya dipertimbangkan  untuk diberikan pada bayi dengan luka bakar. Jumlah cairan yang diberikan berdasarkan formula dari Parkland : [3-4 cc x berat badan (kg) x %TBSA] + cairan rumatan (maintenance per 24 jam). Cairan  rumatan adalah 4cc/kgBB dalam 10 kg pertama, 2cc/kgBB dalam 10 kg ke 2 (11-20kg) dan 1cc/kgBB untuk tiap kg diatas 20 kg. Cairan formula parkland (3-4ccx kgBB x %TBSA) diberikan setengahnya dalam 8 jam pertama dan setengah sisanya dalam 16 jam berikutnya. Pengawasan kecukupan cairan yang diberikan dapat dilihat dari produksi urin yaitu 0,5-1cc/kgBB/jam.

8.  PEMERIKSAAN PENUNJANG 1
Pemeriksaan Laboratorium
  1. pemeriksaan Hb, Ht tiap 8 jam pada 2 hari pertama, dan tiap 2 hari pada 10 hari selanjutnya
  2. Fungsi hati dan ginjal tiap minggu
  3. Pemeriksaan elektrolit tiap hari pada minggu pertama
  4. Pemeriksaan AGD bila nafas lebih dari 32x/menit
  5. Kultur jaringan pada hari ke-1, 3, 7.

9.  PENCEGAHAN LUKA BAKAR 8
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya luka bakar bagi anak-anak di rumah :
1. Dapur
A.    Jauhkan anak-anak dari oven dan pemanggang. Ciptakan zona larangan di sekitarnya untuk anak-anak
B.     Jauhkan  makanan dan minuman panas dari jangkauan anak-anak. Jangan pernah membawa makanan panas dan minuman panas dengan satu tangan dengan ketika ada anak-anak di sekitar anda
C.     Jangan masukkan botol susu anak ke dalam mikrowave; dapat menimbulkan daerah yang panas
D.    Cicipi setiap makanan yang akan dihidangkan
E.     Singkirkan taplak meja menjuntai ketika di rumah ada anak yang sedang belajar merangkak
F.      Jauhkan dan simpan bahan kimia (pemutih, amonia) yang dapat menyebabkan luka bakar kimia.
G.    Simpan korek api, lilin jauh dari jangkauan. Jangan pernah biarkan lilin menyala tanpa pengawasan.
H.    Beli alat-alat listrik dengan kabel yang pendek dan tidak mudah lepas atau menggantung.
2. Kamar mandi
·         Jauhkan blow dryer, curling irons dari jangkauan anak
·         Pastikan termostat pemanas air pada suhu 120°F (48,8°C) atau lebih rendah. Umumnya air panas untuk anak sebaiknya suhunya tidak lebih dari 100°F (37,7°C). Jangan biarkan anak bermain dengan keran atau shower.
3. Di setiap ruangan
·         Tutup setiap tempat yang dapat dipakai untuk menusukkan kabel listrik
·         Jauhkan anak dari pemanas ruangan, radiator, tempat yang berapi
·         Pasang detektor asap dan periksa baterai minimal satu tahun/kali

10. KOMPLIKASI
  1. Syok hipovolemik 1,6
Akibat pertama dari luka bakar adalah syok karena kaget dan kesakitan. Pembuluh kapiler yang terpajan suhu tinggi akan rusak dan permeabilitas meninggi. Sel darah yang ada di dalamnya ikut rusak sehingga dapat terjadi anemia. Meningkatnya permeabilitas menyebabkan udem dan menimbulkan bula dengan membawa serta elektrolit. Hal ini menyebabkan berkurangnya volume cairan intravaskuler. Kerusakan kulit akibat luka bakar menyebabkan kehilangan cairan tambahan karena penguapan yang berlebihan, cairan yang masuk ke bula pada luka bakar derajat II dan pengeluaran cairan dari kropeng pada luka bakar derajat III .
Bila luas luka bakar < 20% biasanya mekanisme kompensasi tubuh masih bisa mengatasi tetapi bila > 20 % terjadi Syok hipovolemik dengan gejala yang khas seperti gelisah, pucat, dingin , berkeringat, nadi kecil dan cepat, tekanan darah menurun dan produksi urin berkurang. Pembengkakan terjadi perlahan lahan dan maksimal pada delapan jam.
  1. Udem laring 1,6
Pada kebakaran dalam ruangan tertutup atau bila luka terjadi di muka,. Dapat terjadi kerusakan mukosa jalan napas karena gas , asap, uap panas yang terhisap,  udem yang terjadi dapat menyebabkan gangguan berupa hambatan jalan napas karena udem laring. Gejala yang timbul adalah sesak napas, takipnea, stridor, suara serak, dan dahak berwarna gelap karena jelaga.
Setelah 12 – 24 jam, permeabilitas kapiler mulai membaik dan terjadi mobilisasi dan penyerapan cairan edema kembali ke pembuluh darah . ini ditandai dengan meningkatnya diuresis.
  1. Keracunan gas CO 1,6
Dapat juga terjadi keracunan gas CO atau gas beracun lain. Karbon monoksida akan mengikat hemoglobin dengan kuat sehingga hemoglobin tak mampu lagi mengikat oksigen. Tanda-tanda keracunan ringan adalah lemas, bingung, pusing, mual dan muntah. Pada keracunan yang berat terjadi koma. Bila > 60 % hemoglobin terikat dengan CO, penderita dapat meninggal.
  1. SIRS (systemic inflammatory respone syndrome) 1,6
Luka bakar sering tidak steril. Kontaminasi pada kulit mati, yang merupakan medium yang baik untuk pertumbuhan kuman, akan mempermudah infeksi. Infeksi ini sulit untuk mengalami penyembuhan karena tidak terjangkau oleh pembuluh darah kapiler yang mengalami trombosis. Kuman penyebab infeksi berasal dari kulitnya sendiri, juga dari kontaminasi kuman dari saluran nafas atas dan kontaminasi kuman di lingkungan rumah sakit. Infeksi nosokomial ini biasanya berbahaya karena banyak yang sudah resisten terhadap antibiotik.
Prosesnya  dimulai oleh aktivasi makrofag, netrofil, dan pelepasan mediator – mediator, yang kemudian diikuti oleh :
1.        gangguan hemodinamik berupa vasodilatasi, depresi miokardium, gangguan sirkulasi dan redistribusi aliran.
2.        perubahan mikrovaskuler karena endotel dan edema jaringan, mikroemboli, dan maldigesti aliran.
3.        gangguan oksigenasi jaringan. Ketiganya menyebabkan hipoksia seluler dan menyebabkan kegagalan fungsi organ. Yang ditandai dengan meningkatnya kadar limfokin dan sitokin dalam darah.
  1. MOF (Multi Organ Failure) 1,6
Adanya perubahan permeabilitas kapiler pada luka bakar menyebabkan gangguan sirkulasi. Di tingkat seluler, gangguan perfusi menyebabkan perubahan metabolisme. Pada tahap awal terjadi proses perubahan metabolisme anaerob yang diikuti peningkatan produksi dan penimbunan asam laktat menimbulkan asidosis. Dengan adanya gangguan sirkulasi dan perfusi, sulit untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel, iskemi jaringan akan berakhir dengan nekrosis.
Gangguan sirkulasi makro menyebabkan gangguan perfusi ke jaringan – jaringan organ penting terutama otak, hepar, paru, jantung, ginjal, yang selanjutnya mengalami kegagalan menjalankan fungsinya. Dalam mekanisme pertahanan tubuh, terjadi gangguan pada sistem keseimbangan tubuh (homeostasis), maka organ yang dimaksud dalam hal ini adalah ginjal. Dengan adanya penurunan atau disfungsi ginjal ini, beban tubuh semakin berat.
Resusitasi cairan yang inadekuat pada fase ini menyebabkan berjalannya proses sebagaimana diuraikan diatas. Sebaliknya bila terjadi kelebihan pemberian cairan (overload) sementara sirkulasi dan perifer tidak atau belum berjalan normal, atau pada kondisi syok; cairan akan ditahan dalam jaringan paru yang manifestasi klinisnya tampak sebagai edema paru yang menyebabkan kegagalan fungsi paru sebagai alat pernafasan, khususnya pertukaran oksigen dengan karbondioksida, kadar oksigen dalam darah sangat rendah, dan jaringan hipoksik mengalami degenerasi yang bersifat irreversible. Sel – sel otak adalah organ yang paling sensitive; bila dalam waktu 4 menit terjadi kondisi hipoksik, maka sel – sel otak mengalami kerusakan dan kematian; yang menyebabkan kegagalan fungsi pengaturan di tingkat sentral.
Sementara edema paru juga merupakan beban bagi jantung sebagai suatu pompa. Pada mulanya jantung menjalankan mekanisme kompensasi, namun akhirnya terjadi dekompensasi.
  1. Kontraktur 12,13
Kontraktur merupakan salah satu komplikasi dari penyembuhan luka, terutama luka bakar. Kontraktur adalah jenis scar yang terbentuk dari sisa kulit yang sehat di sekitar luka, yang tertarik ke sisi kulit yang terluka. Kontraktur yang terkena hingga lapisan otot dan jaringan tendon dapat menyebabkan terbatasnya pergerakan.
Pada tahap penyembuhan luka, kontraksi akan terjadi pada hari ke-4 dimana proses ini bersamaan dengan epitelisasi dan proses biokimia dan seluler dari penyembuhan luka. Kontraktur fleksi dapat terjadi hanya karena kehilangan lapisan superfisial dari kulit. Biasanya dengan dilakukan eksisi dari jaringan parut yang tidak elastik ini akan menyebabkan sendi dapat ekstensi penuh kembali.  Pada luka bakar yang lebih dalam, jaringan yang banyak mengandung kolagen akan meliputi neurovascular bundles dan ensheathed flexor tendons, juga permukaan volar dari sendi akan mengalami kontraksi atau perlekatan sehingga akan membatasi range of motion. Kontraktur yang disebabkan oleh hilangnya kulit atau luka bakar derajat III pada daerah persendian harus segera dilakukan skin grafting.

11. PROGNOSIS 1
Prognosis pada kasus luka bakar ditentukan oleh beberapa faktor, dan menyangkut mortalitas dan morbiditas atau burn illness severity and prediction of outcome ; yang mana bersifat bersifat kompleks.
Beberapa faktor yang berperan antara lain faktor penderita ( usia, gizi, jenis kelamin, dan kelainan sistemik), faktor trauma ( jenis, luas, kedalaman luka bakar, dan trauma penyerta), dan faktor penatalaksanaan (prehospital and inhospital treatment).
Prognosis luka bakar umumnya jelek pada usia yang sangat muda dan usia lanjut. Pada usia yang sangat muda (terutama bayi) beberapa hal mendasar menjadi perhatian, antara lain sistem regulasi tubuh yang belum berkembang sempurna ; komposisi cairan intravaskuler dibandingkan dengan cairan ekstravaskuler, interstitial, dan intraselular yang berbeda dengan komposisi pada manusia dewasa, sangat rentan terhadap suatu bentuk trauma. Sistem imunologik yang belum berkembang sempurna merupakan salah satu faktor yang patut diperhitungkan, karena luka bakar merupakan suatu bentuk trauma yang bersifat imunosupresi.



BAB III
PENUTUP

            Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan oleh energi panas atau bahan kimia atau benda-benda fisik yang menghasilkan efek baik memanaskan atau mendinginkan. Luka bakar pada penatalaksanaan antara anak dan dewasa pada prinsipnya sama namun pada anak akibat luka bakar dapat menjadi lebih serius. Hal ini disebabkan anak memiliki lapisan kulit yang lebih tipis, lebih mudah untuk kehilangan cairan, lebih rentan untuk mengalami hipotermia (penurunan suhu tubuh akibat pendinginan).
            Luka bakar pada anak 65,7% disebabkan oleh air panas atau uap panas (scald). Mayoritas dari luka bakar pada anak-anak terjadi di rumah dan sebagian besar dapat dicegah. Dapur dan ruang makan merupakan daerah yang seringkali menjadi lokasi terjadinya luka bakar. Anak yang memegang oven, menarik taplak dimana di atasnya terdapat air panas, minuman panas atau makanan panas.
            Luka bakar dangkal dan ringan (superfisial) dapat sembuh dengan cepat dan tidak menimbulkan jaringan parut. Namun apabila luka bakarnya dalam dan luas, maka penanganan memerlukan perawatan di fasilitas yang lengkap dan komplikasi semakin besar serta kecacatan dapat terjadi.
            Oleh karena itu, semua orang khususnya orangtua, harus meningkatkan pengetahuan mengenai luka bakar dan penanganannya, terutama pada anak-anak.


DAFTAR PUSTAKA

1.      Moenadjat, Yefta, Dr, Sp.BP; Luka Bakar – Pengetahuan Klinik Praktis; Jakarta, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2003.
2.      Mansjoer, Arif, dkk (editor); Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2, edisi IIILuka Bakar; Jakarta, Media Aesculapius, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2000.
3.      Hansbrough JF, Hansbrough W. Pediatrics Burns. Pedriatics in Review. Vol 20;1999
4.      Morgan ED, Bledsoe SC, Barker J. Ambulatory management of  Burns. American association of family Physician, 2000.
5.      Anonim. Maret 2010. Artikel tabung gas 3 kg kurang pengawasan, http://birokrasi.kompasiana.com/2010/06/28/fakta-tabung-gas-3-kg-kurang-pengawasan/
6.      Marzoeki, Djohansjah. Ilmu Bedah Luka dan Perawatannya, Airlangga University Press, Surabaya 1993 : 10 - 19.
7.      Fenlon S, Nene S. Burns in children. Continuing Education in Anasthesia, Critical Care&Pain. British Journal of Anasthesia. 2007
8.      Atkinson K. Burns : how to protect your child now. Parenting. 2001.
9.      Hudspith J, Rayatt S. First aid and treatment of minor burns. ABC of Burns. BMJ 2004;328;1487-9.
10.  Anonymous. Burns, Clinical practice Guidelines. Royal Children’ Hospital Melbourne. 2010
11.  Holland AJA. Pediatric burns: the forgotten trauma of childhood. Canadian journal of Surgery;2006;4;272-7
12.  Bisono. Reksopradjo, Soelarto (ed.).Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Cet.I. Jakarta: Binarupa Aksara.1999
13.  Pusponegoro, Aryono D. “Luka” dalam de Jong, Wim (ed.).Buku Ajar Ilmu Bedah. Ed.2. Cet. I. Jakarta:EGC. 2005
14.  Schwartz, Seymour I. Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah, Cet. I. Jakarta: EGC. 2000.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar